kuburan-tanpa-nama-meninggi-15-meter-di-sumbar-diduga-makam-suku-panyalai-2

Kuburan Tanpa Nama Meninggi 1, 5 Meter di Sumbar Diduga Makam Suku Panyalai

Bonus harian di Keluaran SGP 2020 – 2021. Padang – Kuburan yang tanahnya meninggi one, 5 meter di Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), masih menyisakan banyak misteri. Salah satunya soal siapa yang dimakamkan di pusara tersebut.

Dihimpun detikcom , Selasa (30/3/2021), kuburan di Korong atau Kampung Sungai Asam, Nagari Sungai Asam, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung, Padang Pariaman, Sumbar, itu mulai meninggi sejak 15 hari terakhir. Wali Korong Sungai Asam, Anuar, mengatakan tak ada yang tahu siapa yang dimakamkan di pusara itu karena tak ada nama di batu nisannya.

“Siapa yg dimakamkan di sana, tersebut belum ada yang mengetahui, karena kuburannya sudah lama dan tidak ada nama di batu nisannya, ” kata Anuar.

Meski demikian, dia menduga kuburan tersebut merupakan makam orang dari suku Panyalai. Makam itu diduga sudah lama ada.

“Itu kuburan kaum suku Panyalai, ” kata Anuar.

Lokasi tanah kuburan meninggi di Padang Pariaman Foto: Jeka Kampai-detikcom

Para pemuka agama dan adat, termasuk dari suku Panyalai, di wilayah itu sudah bertemu. Mereka sepakat mencari tahu siapa keluarga dari jenazah yang dimakamkan pada lokasi itu.

Untuk sementara, para tokoh agama, adat dan pemerintah setempat sepakat agar makam itu dijaga bersama. Sesuatu itu ditujukan agar makam tidak rusak oleh warga yang makin ramai berdatangan tiap hari.

Terbaru, kuburan itu dipasangi kain putih. Kain tersebut dipasang seperti menjadi atap bagi makam tersebut. Menurut Anuar, hal tersebut merupakan tradisi setempat.

“Kebetulan kalau tradisi anda, kalau ada yang meninggal, pas dikubur, memang dipasang tirai. itu tradisinya, ” katanya.

“(Tirai) ini dipasang oleh salah satu warga, yang berasumsi ini keluarganya. Tapi anda belum bisa pastikan dikarenakan tidak ada bukti bahwa ini benar keluarga beliau, ” sambung Anuar.

Tanah pada kuburan tersebut meninggi hingga 1, 5 meter dengan diameter 3-3, 5 meter. Kuburan lama tanpa identitas itu ikut serta menarik naik tiga pusara lainnya.

Anuar menyebut tidak ada bekas penimbunan atau jejak kendaraan yg membawa timbunan ke tempat itu. Batu nisan bukan rusak sama sekali, melainkan ikut naik.

Sementara itu, Ahli geologi Ade Edwar mengatakan perlu ada penelitian soal fenomena yang terjadi tersebut. Dia mengatakan penelitian dibutuhkan untuk mengecek apakah tanah kuburan meninggi itu alami atau dibuat-buat demi sensasi.

Lokasi tanah kuburan meninggi di Padang Pariaman Foto: Jeka Kampai-detikcom

“Perlu dipastikan dulu apakah fenomena terkait memang alamiah, karena bisa saja ini dibikin orang seorang tertentu untuk membuat sensasi, ” kata Ade Edward cullen dalam percakapan dengan detikcom , Jumat (26/3).

Meski demikian, Ade menyebut tanah yang tiba-tiba meninggi / yang dikenal dengan ‘tanah tumbuh’ itu sering terjadi. Terutama, katanya, di sepanjang patahan Sumatera.

“Sepanjang patahan Sumatera, banyak ‘tanah tumbuh’ ini, namanya diapir. Diapir adalah penerobosan (intrusi) batuan karena perbedaan tekanan dan buoyancy. Penerobosan biasanya vertikal melibatkan batuan berdensitas rendah yang relatif mobile menerobos batuan berdensitas lebih tinggi, biasanya melalui rekahan (fracture). Diapir terkait bisa di mana tertentu terjadi, ” katanya.

“Di samping fenomenologi diapir, hal lain bisa juga karena adanya patahan, seperti kejadian di pinggir jalan di Lubuk Selasih sebelum Mapolres Solok beberapa waktu lalu, di mana tanah daerah tersebut juga naik terus akibat tekanan dari patahan Sumatera, inch tambah dia. (haf/mae)