Pertamina Latih Warga Manfaatkan Minyak Jelantah Jadi Lilin

Pertamina Latih Warga Manfaatkan Minyak Jelantah Jadi Lilin

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Jakarta

Pertamina Refinery Unit (RU) V Balikpapan bersama Komunitas Jelantah 4 Change melakukan program pemberdayaan masyarakat melalaikan minyak jelantah untuk melestarikan dunia. Program itu dilakukan melalui pelatihan pembuatan lilin yang bertempat dalam Kampung Atas Air, Kelurahan Margasari.

Region Manager Comm, Rel & CSR Kalimantan Roberth MV Dumatubun mengatakan program itu melibatkan kelompok masyarakat yang diberi nama Mariojela. Mariojela merupakan singkatan dari Margasari Olah Jelantah.

Adapun pelatihan itu direncanakan diikuti oleh 16 RT dalam Kelurahan Margasari. Namun, terkait dengan protokol kesehatan, maka pelatihan dibagi ke dalam 8 gelombang yang akan diikuti oleh 5 datang dengan 7 orang peserta setiap pelatihannya.

“Setelah pelatihan pengerjaan lilin, nantinya kelompok akan diajarkan juga metode pemasarannya, ” jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/12/2020).

Robert menjelaskan program tersebut diawali dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat karena ditemuinya kebiasaan umum yang membuang minyak jelantah ke perairan. Sebab, perairan pada dasarnya terhubung langsung dengan laut, oleh karena itu minyak jelantah dapat turut menodai lingkungan.

“Bersama Komunitas Jelantah 4 Change kita mengedukasi masyarakat bahwa selain membuang patra jelantah ke laut berpotensi menodai lingkungan, dan di sisi lain minyak jelantah dapat bernilai hati-hati bagi masyarakat, ” jelasnya.

Salah satu anggota klan bernama Moelyono mengatakan sebelum agenda ini diinisiasi, masyarakat membuang minyak jelantah ke laut. “Masyarakat umum masih berfikir dan menganggap bahwa laut adalah tempat sampah dengan luas, ” ucapnya.

Moelyono kemudian bergabung dan terkebat aktif dalam kelompok pada tahun 2019. Ia dan kelompoknya berhasil mengumpulkan minyak jelantah hingga sekitar 300 liter.

“Sementara dari awal tahun hingga pertengahan Desember 2020, jumlah minyak jelantah yang terkumpul sekitar 787 liter. RT 10 dan RT 11 menjadi pengumpul terbanyak di mana mereka mengumpulkan lebih dari 100 liter, ” ungkapnya.

Selama ini, kata dia, minyak jelantah ini langsung dijual kepada salah satu pengumpul. Moelyono kendati berharap agar program ini tetap berlanjut dan terus menghasilkan jumlah tambah bagi masyarakat.

“Selain bernilai ekonomi, diharapkan keberlanjutan program ini dapat semakin menimbulkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka, ” pungkasnya.

(prf/ega)