Satpol PP DKI: Pelanggaran Protokol Kesehatan Menurun Saat PSBB Transisi

Satpol PP DKI: Pelanggaran Protokol Kesehatan Menurun Saat PSBB Transisi

Jakarta

Satpol PP DKI Jakarta mengklaim terjadi penurunan angka pelanggaran protokol kesehatan virus Corona (COVID-19) di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. Pasalnya, asosiasi telah disiplin dalam menerapkan aturan kesehatan, salah satunya memakai masker.

“Kalau disandingkan secara PSBB yang sebelumnya, PSBB sendat kemudian PSBB transisi yang sebelumnya ada, terjadi penurunan terhadap pengingkaran disiplin protokol kesehatan utamanya yang berkenan dengan penggunaan masker, kelompok sudah makin menyadari bahwa kedok ini menjadi sebuah kebutuhan sungguh, ” kata Kasatpol PP DKI Jakarta Arifin kepada wartawan dalam Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (25/10/2020).

Arifin mengucapkan masyarakat sudah mulai menyadari pentingnya penggunaan masker. Hal ini, sebut Arifin, didasari saat operasi dalam jalur protokol sampai menembus lingkungan permukiman warga.

“Sehingga kami ketika melakukan operasi, baik tersebut operasi di jalan-jalan yang tersedia, di jalur-jalur protokol maupun dalam lingkungan pemukiman, kita lihat bahwa masyarakat sudah mulai menyadari pentingnya penggunaan masker. Mudah-mudahan ini satu diantara upaya yang kita lakukan menimbulkan kedisiplinan masyarakat makin sadar, makin baik lagi masyarakat untuk patuh terhadap protokol-protokol kesehatan” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta mengurangi kebijakan rem genting di Ibu Kota. Sejak 12 Oktober 2020, PSBB transisi sudah dimulai.

Keputusan itu diumumkan lewat keterangan tertulis pada situs Pemprov DKI, Minggu (11/10). Pemprov DKI menyatakan adanya pelambatan kenaikan kasus positif dan peristiwa aktif meski masih terjadi penambahan penularan.

“Melihat kejadian tersebut, Pemprov DKI Jakarta memutuskan mengurangi kebijakan rem darurat secara bertahap dan memasuki Pembatasan Baik Berskala Besar (PSBB) Masa Pergantian dengan ketentuan baru selama dua pekan ke depan, mulai tanggal 12-25 Oktober 2020, ” begitu bunyi keterangan tertulis dari Pemprov DKI.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan kesimpulan ini didasari beberapa indikator, yakni laporan kasus harian, kasus mair harian, tren kasus aktif, dan tingkat keterisian RS rujukan COVID-19.

(imk/imk)